Langsung ke konten utama

Segera!

 



 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lampu di Pohon, Luka di Tubuh Kota

Seratus hari kerja adalah waktu yang cukup untuk menunjukkan arah kepemimpinan. Di Baubau, pasangan H. Yusran Fahim dan Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu berhasil mencatat capaian pembangunan yang tidak sedikit. Sebagai warga kota Baubau saya merasa inisiatif ini adalah pertanda baik untuk publik. Perubahan-perubahan itu mulai dari pasar murah, peningkatan UMKM, hingga revitalisasi ruang publik. Selain pembenahan fisik, salahsatu komitmen unggulan dari H. Yusran Fahim dan Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu adalah gerakan Hijau Baubau berkelanjutan. Namun, dibalik gempita keberhasilan itu ada yang mengganjal— Gerakan Hijau Baubau Berkelanjutan yang seharusnya ideal, justru bekerja secara cacat dilapangan. Faktanya, pohon-pohon yang seharusnya menjadi penyangga hidup warga kota Baubau, justru dijadikan etalase. Pohon-pohon diberi lampu, batang hingga rantingnya dililit kabel, tubuh pohon dipaku lalu dialiri listrik, belum lagi dampaknya bagi manusia yang melintas dan hewan yang hidup diatasnya. Kota...

Kisah dari Kaboneboneana

Sekumpulan bocah berlari kegirangan di atas pasir. Ada yang membuat bola pasir lalu mengadunya sampai salah satu bola   pecah. Sementara itu para remaja asik   menggiring bola, mengoper, dan berusaha mencetak gol di gawang yang hanya ditandai dengan tumpukan pasir dan sandal. Tim yang ketinggalan skor akan membuka bajunya. Dan pertandingan baru berakhir setelah kedua tim sama-sama kelelahan. Di tempat lain ada sekelompok ibu-ibu dan anak gadisnya yang mencari kerang, kepiting dan ikan untuk lauk makan malam. Di pesisir, ada nelayan yang menambal perahunya untuk digunakan kembali keesokan harinya.   Matahari mulai kembali ke peraduannya. Seluruh kegiatan itu akan berhenti ketika air naik atau azan magrib berkumandang. Mana yang lebih dulu hadir, itu tak penting. Air akan pasang dan menutupi pasir dan batuan karang. Masing-masing dari mereka akan bergegas menuju daratan.   Para ibu akan pulang untuk memasak ikan, kerang atau kepiting hasil buruan yang akan disantap...

Tambur VOC untuk La Elangi; Kolonialisme yang datang melalui bunyi

Di sebuah sore yang sepi pada bulan januari tahun 1641, Seorang utusan dari Banda berkunjung di Buton. Ia membawa kabar perihal Banda, selebes dan VOC. Kabar itu mengisahkan tentang aliansi baru yang dibentuk oleh VOC seminggu yang lalu. Poros itu  dalam rangka persahabatan dan upaya ekonomi. Utusan itu lalu berkisah lagi soal pemberian hadiah dari VOC dalam banyak rupa. La Elangi tak bergeming. Ia lalu berjalan menuju jendela, Pandangannya terlempar ke arah laut. Sesuatu bernama gelisah sedang menggantung di wajahnya. Pada paruh abad ke 17, Buton adalah kerajaan maritim. Kekuasaanya bertaut dengan   jaringan dagang nusantara dan peradaban islam. Di bawah La Elangi Sultan ke empat, Buton menjalin perimbangan kuasa antarkerajaan dan kekuatan asing yang masuk ke Laut Banda. Berbeda dari pendekatan kekerasan yang diterapkan di wilayah lain, hubungan VOC dengan Buton dimulai dengan jalur diplomasi. Tidak ada perang. Kolonial datang sebagai kongsi yang menawarkan perkawanan. B...