Langsung ke konten utama

Lampu di Pohon, Luka di Tubuh Kota


Seratus hari kerja adalah waktu yang cukup untuk menunjukkan arah kepemimpinan. Di Baubau, pasangan H. Yusran Fahim dan Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu berhasil mencatat capaian pembangunan yang tidak sedikit. Sebagai warga kota Baubau saya merasa inisiatif ini adalah pertanda baik untuk publik.

Perubahan-perubahan itu mulai dari pasar murah, peningkatan UMKM, hingga revitalisasi ruang publik. Selain pembenahan fisik, salahsatu komitmen unggulan dari H. Yusran Fahim dan Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu adalah gerakan Hijau Baubau berkelanjutan.

Namun, dibalik gempita keberhasilan itu ada yang mengganjal—Gerakan Hijau Baubau Berkelanjutan yang seharusnya ideal, justru bekerja secara cacat dilapangan. Faktanya, pohon-pohon yang seharusnya menjadi penyangga hidup warga kota Baubau, justru dijadikan etalase. Pohon-pohon diberi lampu, batang hingga rantingnya dililit kabel, tubuh pohon dipaku lalu dialiri listrik, belum lagi dampaknya bagi manusia yang melintas dan hewan yang hidup diatasnya.

Kota Baubau memang butuh pembenahan ruang publik dan estetika kota, tapi segenap upaya itu harus berpedoman pada etika lingkungan.

Tulisan ini adalah tanggapan saya, hak saya sebagai warga kota Baubau yang merasa keberatan atas penggunaan lampu-lampu pada pohon-pohon di ruang public kota Baubau.

 

Lampu di Pohon, Luka di Tubuh Kota

Di banyak titik kota, terutama Jalan Balai Kota, pohon-pohon tua dililit kabel listrik dan dipasangi lampu LED yang menyala sepanjang malam. Mereka dijadikan ornamen visual tanpa mempertimbangkan hak-haknya sebagai makhluk hidup dan fungsi ekologisnya.

Pohon memiliki siklus biologis yang bergantung pada ritme terang dan gelap. Saat cahaya buatan merusak keseimbangan itu, pohon kehilangan kemampuan berfotosintesis secara normal. Daunnya gugur tidak beraturan, metabolismenya terganggu, dan saat kemarau panjang datang, ia mengalami stres fisiologis akut.

Kondisi ini jauh dari ideal tata kota berkelanjutan; Gerakan Hijau Baubau Berkelanjutan. Idealnya, ruang publik seharusnya melindungi pohon sebagai penyerap karbon, peneduh alami, dan habitat makhluk hidup. Tapi fakta di lapangan menunjukkan pohon hanya diperlakukan sebagai papan reklame vertikal—dihias, dipaku, dililit, lalu ditinggalkan tanpa pengawasan.

Kekerasan Visual yang Sistemik

Tindakan melilit pohon dengan lampu bukan hanya kelalaian teknis. Ia adalah bentuk kekerasan sistemik yang dibungkus estetika. Logika pembangunan yang mengejar “efek wow” tanpa panduan etika ekologis, akhirnya melahirkan kota yang bersinar tapi menyakiti.

Didit, seorang pengamat lingkungan, menyebutnya dengan lugas:

"Memaku pohon itu seperti menyuntik sianida ke tubuh manusia."

Kabel yang melilit dahan dan batang menghambat distribusi nutrisi dari akar ke daun. Satu paku bisa merusak lapisan kambium yang vital, membuat pohon rentan terhadap penyakit, lalu keropos dan tumbang. Setelah itu pohon bisa saja jatuh dan menimpa pengguna jalan.


Cahaya yang Mengusir Penghuni Alam

Pohon bukan hanya vegetasi, tapi juga rumah. Ia dihuni oleh burung malam, kelelawar kecil, lebah malam, dan ngengat penyerbuk. Semua makhluk ini menjaga keberlanjutan ekosistem kota, terutama dalam proses penyerbukan tumbuhan. Namun, cahaya LED yang menyala terus-menerus menyebabkan disorientasi dan gangguan pola tidur. Hewan-hewan itu akhirnya pergi. Biodiversitas kota pun menyusut pelan-pelan.

Dalam kerangka kota ramah lingkungan, cahaya seharusnya diarahkan untuk keselamatan manusia, bukan mengejar efek visual berlebihan yang menyiksa makhluk lainnya. Kota bukan panggung konser. Ia ruang hidup bersama.

Polusi Cahaya dan Ancaman Nyata

Polusi cahaya juga berdampak pada manusia. Studi University of Michigan (2019) menunjukkan bahwa cahaya RGB dari lampu LED dapat mengurangi fokus pandang pengemudi dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Dampak paling nyata dialami oleh:

 Pengemudi lansia, yang respons visualnya melambat saat terkena cahaya menyilaukan.

Penderita epilepsi fotosensitif, yang bisa mengalami kejang akibat kontras cahaya ekstrem.

Anak-anak, yang tertarik secara naluriah pada sumber cahaya tanpa kesadaran akan bahaya di sekitarnya.

Di kota ideal, penerangan harus berbasis keamanan dan inklusivitas, bukan sekadar tontonan musiman.

Pohon sebagai Arsip Sejarah

Menurut riset yang dilakukan Latalombo Urban Lab medio 2024 silam, Sebagian besar pohon cemara laut (Casuarina equisetifolia) di pusat kota adalah warisan kolonial Belanda, ditanam sekitar tahun 1906 di kawasan Later Buton setelah perjanjian Asyikin–Brugman. Kini, usianya mencapai 119 tahun, batangnya setebal tiga meter, dan menjulang seperti tombak leluhur.

Mereka adalah saksi hidup perubahan lanskap kota. Tetapi kini, tubuh mereka ditusuk paku dan dibebani lilitan lampu, seolah tidak punya nilai sejarah dan tidak layak dihormati.


Kesalahan Estetika yang Fatal

pohon bukan Etalase lampu. Saat pohon dibalut lampu dari akar ke pucuk, daya sebar cahayanya liar dan tidak terkontrol. Pola kompleks terbentuk, menciptakan efek visual seperti gerakan semu yang membingungkan mata manusia dan hewan.

Estetika yang lahir tanpa etika akan berubah menjadi bencana.

Menuju Etika Ruang Publik

Jika pemerintah kota benar-benar ingin mewujudkan "kerja bersama" yang bermartabat, maka ia perlu mulai dari hal paling mendasar: menghormati makhluk hidup, merawat warisan sejarah, dan menciptakan ruang kota yang aman bagi semua.

Saya merekomendasikan:

Melepas semua lilitan lampu pada pohon-pohon tua dan menghentikan praktik estetika yang merusak lingkungan.

Memindahkan bangku taman dari bawah pohon cemara laut, karena dahan tua berisiko tumbang.

Membangun akses ruang publik yang ramah difabel di Lapangan Merdeka dan ruang terbuka lainnya.

Membangun toilet umum di setiap titik fasilitas publik.

Memperluas penerangan lorong permukiman, karena kejahatan lahir dari ruang gelap dan tak terawasi.

 Ditulis oleh,

Alzein Rama Destafa Ferint

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah dari Kaboneboneana

Sekumpulan bocah berlari kegirangan di atas pasir. Ada yang membuat bola pasir lalu mengadunya sampai salah satu bola   pecah. Sementara itu para remaja asik   menggiring bola, mengoper, dan berusaha mencetak gol di gawang yang hanya ditandai dengan tumpukan pasir dan sandal. Tim yang ketinggalan skor akan membuka bajunya. Dan pertandingan baru berakhir setelah kedua tim sama-sama kelelahan. Di tempat lain ada sekelompok ibu-ibu dan anak gadisnya yang mencari kerang, kepiting dan ikan untuk lauk makan malam. Di pesisir, ada nelayan yang menambal perahunya untuk digunakan kembali keesokan harinya.   Matahari mulai kembali ke peraduannya. Seluruh kegiatan itu akan berhenti ketika air naik atau azan magrib berkumandang. Mana yang lebih dulu hadir, itu tak penting. Air akan pasang dan menutupi pasir dan batuan karang. Masing-masing dari mereka akan bergegas menuju daratan.   Para ibu akan pulang untuk memasak ikan, kerang atau kepiting hasil buruan yang akan disantap...

Tambur VOC untuk La Elangi; Kolonialisme yang datang melalui bunyi

Di sebuah sore yang sepi pada bulan januari tahun 1641, Seorang utusan dari Banda berkunjung di Buton. Ia membawa kabar perihal Banda, selebes dan VOC. Kabar itu mengisahkan tentang aliansi baru yang dibentuk oleh VOC seminggu yang lalu. Poros itu  dalam rangka persahabatan dan upaya ekonomi. Utusan itu lalu berkisah lagi soal pemberian hadiah dari VOC dalam banyak rupa. La Elangi tak bergeming. Ia lalu berjalan menuju jendela, Pandangannya terlempar ke arah laut. Sesuatu bernama gelisah sedang menggantung di wajahnya. Pada paruh abad ke 17, Buton adalah kerajaan maritim. Kekuasaanya bertaut dengan   jaringan dagang nusantara dan peradaban islam. Di bawah La Elangi Sultan ke empat, Buton menjalin perimbangan kuasa antarkerajaan dan kekuatan asing yang masuk ke Laut Banda. Berbeda dari pendekatan kekerasan yang diterapkan di wilayah lain, hubungan VOC dengan Buton dimulai dengan jalur diplomasi. Tidak ada perang. Kolonial datang sebagai kongsi yang menawarkan perkawanan. B...

Catatan dari Banti To Akoro Situs Dua

Hujan di bulan Juni bukan sekadar puisi. Hujan itu hadir secara literal di langit Nganganaumala. Hari kedua perhelatan Banti to akoro.  kampung Loji Sejak pagi, Dua Puluh Lima (25) Peserta sudah selesai registrasi. Hujan belum jua reda, sementara walking tour harus segera dimulai.  Para peserta Banti toakoro situs dua memulai penjelajahannya Dari kantor Kelurahan Nganganaumala. Mereka mengenakan jas hujan lalu berjalan menjajal lorong-lorong sempit di kampung Loji. Lorong sempit Loji III menyambut kami. Ada aroma yang menguar di mulut gang. Karakter baunya seperti halaman pertama dari buku tua yang berdebu. Penampakan yang lain adalah dinding rumah-rumah panggung tua yang menyimpan ingatan pemiliknya. Di sinilah perjalanan dimulai. tepat di depan salah satu rumah warga yang pada depannya terkapar dua buah meriam peninggalan VOC. Pemandu kami, Pak LM Yurid warga asli Loji, berdiri tenang memegang payung di hadapan para peserta. Ia memulai cerita dengan sebutir kata:  ...